![]() |
|
TES PSIKOLOGI | PSIKOTES
Entah kenapa, kata Psikotes,
terutama bagi para fresh graduate, kerap merupakan momok yang
cukup menakutkan. Kenapa begitu? Bisa jadi karena cerita dari mulut ke
mulut mengenai sulitnya menghadapi psikotes. Atau rasa percaya diri yang
berubah kekecewaan ketika gagal lulus psikotes. Dan yang paling berat
mungkin mencoba mengulang dari awal lagi untuk mendapatkan pekerjaan.
Psikotes merupakan bagian dari rangkaian seleksi sebuah lowongan kerja,
yang kerap memiliki arti penting. Psikotes, percaya atau tidak,
merupakan perangkat untuk menangkap kecenderungan para pelamar, yang
meliputi kemampuan intelektual atau kepribadian. Dua hal ini tentunya
akan disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan yang tersedia.
Sebenarnya, proses psikotes itu sendiri cukup spesifik: dimulai dari
perusahaan yang membuka lowongan kerja untuk beberapa posisi. Lalu
perusahaan tersebut menetapkan sejumlah kualifikasi yang harus dipenuhi
para pelamar kerja. Untuk alasan efisiensi, biasanya perusahaan tersebut
meminta bantuan pada lembaga psikologi terapan untuk mengadakan psikotes
yng dibutuhkan. Langkah selanjutnya, dengan gambaran kualifikasi yang
ditetapkan perusahaan, lembaga tersebut berusaha menangkap kemampuan dan
kecenderungan untuk memenuhi kualifikasi tersebut.
Model psikotes yang dilakukan biasanya akan dipengaruhi oleh kualifikasi
terhadap posisi yang dibutuhkan perusahaan yang bersangkutan. Untuk
posisi tinggi semisal CEO, akan dibutuhkan proses yang relatif lebih
rumit dan perangkat tes yang lebih beragam.
Biasanya terdapat 3 aspek pokok yang diungkap dalam psikotes. Ketiga
aspek tersebut merupakan satu kesatuan integritas yang tidak bisa
dipisahkan secara segmentatif. Hasil dari ketiga aspek ini, nantinya
akan menentukan "kualitas" seseorang.
Pertama, aspek kecerdasan umum atau intelegensi yang untuk mendeteksinya, dibutuhkan sebuah alat tes yang memancing kemampuan intelegensi umum dan kemampuan khusus. Alat tes yang biasa digunakan bisa berupa tes verbal, non-verbal dan performance.
Aspek kedua, karakteristik/perilaku kerja. Hal ini meliputi berbagai unsur: kecepatan, ketelitian, perencanaan dan semacamnya, biasnya disesuaikan dengan kebutuhan khusus pekerjaan.
Aspek ketiga adalah aspek kepribadian. Hal ini biasanya mencerminkan sisi-sisi unik seseorang. Untuk menggali aspek ini, dibutuhkan ketajaman dan kepekaan psikolog. Untuk menghindari hal-hal yang subyektif seperti marah atau tersinggung, dibutuhkan pengalaman yang memadai
Keseluruhan hasil psikotes disesuaikan dengan kualifikasi "pesanan"
perusahaan. Seseorang yang memenuhi kualifikasi, akan direkomendasikan
untuk diterima. Memang, tidak semua pelamar bisa memenuhi 100 persen
kualifikasi yang ditetapkan oleh sebuah perusahaan.
Yang menjadi persoalan, sebenarnya, hasil sebuah psikotes tidak mengenal
adanya dikotomi lulus dan tidak lulus. Hal ini sering menimbulkan
kesalahpahaman. Seolah orang yang tidak bisa melewati tahap psikotes,
seolah dianggap mempunyai sisi kekurangsempurnaan diri yang membuatnya
tidak bisa bekerja.
Psikotes itu sendiri berupaya menangkap sisi kepribadian seseorang,
sehingga dibutuhkan spontanitas dan orisinalitas respon/jawaban. Hal
tersebut dibutuhkan agar hasil yang diperoleh bisa mendekati akurasi
kepribadian yang sebenarnya.
Jadi, apa Psikotes adalah sesuatu yang menakutkan?
kembali ke halaman utama Psikotes
recommended link www.artikelpsikologi.co.cc